Selasa, 24 Februari 2026

Pengantar Kurikulum PAI

PENGANTAR KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


LANDASAN, PRINSIP, DAN ORIENTASI PENGEMBANGANNYA DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL


PENDAHULUAN

Kurikulum merupakan komponen fundamental dalam sistem pendidikan karena menjadi pedoman operasional dalam seluruh proses pembelajaran. Ia tidak hanya berisi daftar mata pelajaran, tetapi mencerminkan arah, visi, dan filosofi pendidikan suatu bangsa. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), kurikulum memiliki dimensi normatif dan transformatif yang lebih luas dibandingkan kurikulum mata pelajaran lainnya.

Secara konseptual, kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan ajar, metode, serta evaluasi pembelajaran. Dalam perspektif pendidikan Islam, kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen pembentukan insan kamil yang berorientasi pada keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Oleh karena itu, kurikulum PAI harus dirancang dengan memperhatikan nilai-nilai wahyu sekaligus kebutuhan kontekstual masyarakat.

Dalam sejarah pendidikan Islam, sistem kurikulum telah berkembang sejak era klasik melalui model halaqah, kuttab, dan madrasah. Struktur pembelajaran dirancang secara sistematis berdasarkan jenjang keilmuan dan kebutuhan umat. Hal ini menunjukkan bahwa konsep kurikulum dalam Islam memiliki akar historis yang kuat dan tidak terlepas dari tradisi intelektual para ulama.

Memasuki era modern, kurikulum PAI menghadapi tantangan globalisasi, pluralitas budaya, serta perkembangan teknologi digital. Fenomena krisis moral, radikalisme, dan degradasi nilai menjadi isu strategis yang menuntut penguatan pendidikan karakter berbasis agama. Kurikulum PAI harus mampu menjadi solusi edukatif terhadap tantangan tersebut.

Selain itu, perubahan kebijakan pendidikan nasional yang dinamis turut memengaruhi arah pengembangan kurikulum PAI. Integrasi pendekatan saintifik, pembelajaran berbasis kompetensi, serta penguatan profil pelajar berkarakter menuntut adaptasi kurikulum PAI agar tetap relevan tanpa kehilangan substansi teologisnya.

Urgensi penguatan kurikulum PAI juga berkaitan dengan pembentukan identitas keagamaan peserta didik di tengah masyarakat multikultural. Pendidikan agama tidak boleh eksklusif, melainkan harus membentuk karakter moderat, toleran, dan inklusif sesuai prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.

Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini bertujuan mengkaji secara komprehensif hakikat, landasan, tujuan, prinsip, komponen, arah pengembangan, serta tantangan implementasi kurikulum PAI dalam sistem pendidikan nasional.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hakikat Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Kurikulum PAI pada hakikatnya merupakan sistem nilai dan struktur pembelajaran yang dirancang untuk membimbing peserta didik memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam secara komprehensif. Ia mencakup perencanaan tujuan, pemilihan materi, strategi pembelajaran, serta evaluasi yang diarahkan pada pembentukan karakter religius.

Secara ontologis, kurikulum PAI berakar pada konsep tauhid sebagai fondasi seluruh aktivitas pendidikan. Orientasi tauhid menempatkan Allah sebagai pusat nilai, sehingga seluruh proses pembelajaran diarahkan untuk membentuk kesadaran ubudiyah dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.

Secara epistemologis, kurikulum PAI memadukan sumber wahyu dan akal. Pengetahuan agama tidak hanya disampaikan secara tekstual, tetapi juga dikembangkan melalui pendekatan rasional, reflektif, dan kontekstual agar peserta didik mampu memahami relevansi ajaran Islam dalam kehidupan modern.

2. Landasan Kurikulum PAI

a. Landasan Teologis

Landasan teologis bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama pendidikan Islam. Nilai-nilai akidah, ibadah, dan akhlak menjadi fondasi dalam merumuskan tujuan serta isi kurikulum.

Landasan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi proses pembinaan iman dan takwa. Oleh karena itu, setiap materi PAI harus mengandung pesan spiritual yang memperkuat hubungan manusia dengan Allah.

Selain itu, landasan teologis memastikan bahwa pengembangan kurikulum tetap berada dalam koridor syariat dan tidak menyimpang dari prinsip ajaran Islam.

b. Landasan Filosofis

Secara filosofis, kurikulum PAI berpijak pada pandangan tentang manusia sebagai makhluk multidimensional. Manusia dipandang sebagai makhluk spiritual, rasional, sosial, dan moral.

Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk insan yang seimbang antara dimensi duniawi dan ukhrawi. Konsep keseimbangan ini menjadi dasar dalam merancang kurikulum yang tidak hanya menekankan aspek kognitif.

Landasan filosofis juga memberikan arah normatif bahwa pendidikan Islam bertujuan membangun peradaban yang berkeadaban dan bermoral.

c. Landasan Psikologis dan Sosiologis

Landasan psikologis mempertimbangkan tahap perkembangan peserta didik. Materi dan metode harus disesuaikan dengan karakteristik usia agar pembelajaran efektif dan bermakna.

Landasan sosiologis menuntut kurikulum agar responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Pendidikan agama harus relevan dengan dinamika sosial dan realitas kehidupan peserta didik.

Kedua landasan ini memastikan bahwa kurikulum PAI bersifat kontekstual tanpa kehilangan esensi nilai Islam.

3. Tujuan Kurikulum PAI

Tujuan utama kurikulum PAI adalah membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Tujuan ini sejalan dengan amanat pendidikan nasional yang menekankan pembentukan karakter.

Secara operasional, tujuan tersebut dijabarkan dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar yang mencakup aspek akidah, ibadah, akhlak, serta pemahaman sejarah kebudayaan Islam.

Lebih dari itu, kurikulum PAI bertujuan membentuk kesadaran sosial dan tanggung jawab moral peserta didik sebagai anggota masyarakat yang plural dan dinamis.

4. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum PAI

Prinsip relevansi mengharuskan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat. Materi PAI harus kontekstual dan aplikatif.

Prinsip fleksibilitas memungkinkan penyesuaian kurikulum dengan kondisi lokal tanpa menghilangkan substansi nilai Islam.

Prinsip kontinuitas, efektivitas, dan efisiensi memastikan adanya kesinambungan materi antar jenjang serta pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.

5. Komponen Kurikulum PAI

Komponen pertama adalah tujuan pembelajaran yang menjadi arah seluruh aktivitas pendidikan. Tujuan harus dirumuskan secara jelas dan terukur.

Komponen kedua adalah materi pembelajaran yang mencakup ajaran akidah, ibadah, akhlak, dan sejarah Islam. Materi harus sistematis dan berjenjang.

Komponen ketiga meliputi strategi, media, dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga sikap dan praktik keagamaan peserta didik.

6. Arah Pengembangan Kurikulum PAI di Era Kontemporer

Pengembangan kurikulum PAI harus mengintegrasikan literasi digital agar pembelajaran lebih relevan dengan generasi modern.

Selain itu, penguatan moderasi beragama menjadi agenda penting untuk membentuk sikap toleran dan inklusif.

Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum juga menjadi arah strategis guna membangun paradigma pendidikan Islam yang holistik.

7. Tantangan Implementasi Kurikulum PAI

Tantangan utama meliputi keterbatasan kompetensi guru dalam inovasi pembelajaran.

Selain itu, sarana dan prasarana yang belum merata menjadi hambatan dalam optimalisasi pembelajaran berbasis teknologi.

Solusi strategis mencakup pelatihan berkelanjutan, supervisi akademik, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

SIMPULAN

Kurikulum PAI merupakan instrumen fundamental dalam pembentukan karakter religius dan moral peserta didik. Pengembangannya harus berlandaskan nilai teologis, filosofis, psikologis, dan sosiologis yang saling terintegrasi.

Dengan desain yang adaptif dan implementasi yang profesional, kurikulum PAI dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi muslim yang berilmu, moderat, dan berakhlak mulia.

Manajemen Penyuluhan

Manajemen Penyuluhan: Pengertian dan Ruang Lingkup

Oleh : Mukhsin, S.Pd.I., M.Pd

Ka. Prodi PAI STAI Al Furqan Makassar

Manajemen penyuluhan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan dalam upaya penyampaian informasi kepada individu atau kelompok dengan tujuan meningkatkan kualitas spiritual, sosial dan moral masyarakat. Dalam konteks pendidikan Islam, penyuluhan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformasional karena diarahkan untuk memperbaiki sikap, perilaku, dan nilai kehidupan. Manajemen yang baik sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap efektivitas penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh atau fasilitator dakwah. (muhsinsaad.blogspot.com)

Perencanaan merupakan tahap awal yang strategis dalam manajemen penyuluhan. Pada tahap ini, tujuan kegiatan dirumuskan jelas, strategi pemilihan materi ditetapkan, dan metode komunikasi direncanakan sesuai dengan karakteristik peserta. Tanpa perencanaan yang matang, kegiatan penyuluhan akan rentan mengalami hambatan seperti salah sasaran materi atau metode yang tidak sesuai dengan audiens. Menurut literatur manajemen, perencanaan merupakan fungsi dasar untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien melalui penggunaan sumber daya yang optimal. (e-journal.metrouniv.ac.id)

Selanjutnya, pengorganisasian dan pembagian tugas menjadi elemen penting untuk memastikan penyuluhan berjalan sistematis. Pada tahap pengorganisasian, struktur kegiatan ditetapkan, peran masing-masing penyuluh ditentukan, dan koordinasi antar anggota tim dilaksanakan. Proses ini memastikan bahwa setiap komponen penyuluhan mengetahui fungsi dan tanggung jawabnya sehingga kegiatan berjalan teratur dan terukur. Pengorganisasian yang tepat merupakan jantung dari keberhasilan penyuluhan yang melibatkan banyak pihak.

Prinsip-Prinsip Dasar dalam Manajemen Penyuluhan

Manajemen penyuluhan memiliki sejumlah prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh setiap penyuluh, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengendalian dan evaluasi. Prinsip perencanaan meliputi penentuan tujuan, sasaran, strategi, serta sumber daya yang dibutuhkan untuk kegiatan penyuluhan. Perencanaan ini harus mendasarkan pada kebutuhan audiens sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan tepat sasaran. (muhsinsaad.blogspot.com)

Prinsip pengorganisasian mencakup pembentukan struktur kerja yang jelas dalam tim penyuluhan, agar tiap individu memahami tugasnya dan dapat bekerja secara koordinatif. Unsur ini mencakup penentuan job desk, pembagian tugas, serta ruang lingkup tanggung jawab setiap anggota. Pengorganisasian yang baik membuka ruang bagi komunikasi efektif antar penyuluh sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas. 

Tahap pelaksanaan adalah inti dari seluruh kegiatan manajemen penyuluhan, di mana semua perencanaan dan struktur organisasi dikonkretkan melalui tindakan nyata. Pada tahap ini, penyampaian materi dilakukan secara langsung kepada peserta sesuai dengan strategi yang telah dibuat. Evaluasi dan pengendalian dilakukan setelah pelaksanaan untuk mengetahui sejauh mana tujuan kegiatan telah tercapai serta untuk merumuskan langkah perbaikan ke depan. Pengawasan ini penting agar setiap kegiatan penyuluhan selalu berada dalam koridor tujuan awal yang telah ditetapkan. 

Model-Model Manajemen Penyuluhan dalam BPI

Dalam konteks Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), terdapat berbagai model manajemen penyuluhan yang bisa diterapkan. Salah satunya adalah model partisipatif, di mana masyarakat atau audiens dilibatkan dalam setiap fase kegiatan penyuluhan. Melibatkan peserta sejak tahap perencanaan hingga evaluasi dapat meningkatkan rasa kepemilikan terhadap materi yang disampaikan dan memperkuat dampak perubahan yang diinginkan. (muhsinsaad.blogspot.com)

Model humanistik adalah pendekatan lain yang menekankan aspek hubungan emosional antara penyuluh dan peserta. Pendekatan ini menempatkan rasa empati dan interaksi personal sebagai fokus utama sehingga proses penyuluhan menjadi lebih personal dan mendalam. Pendekatan humanistik ini efektif untuk membangun kepercayaan dan kesadaran peserta terhadap nilai-nilai yang disampaikan selama penyuluhan.

Selain itu, model integratif menggabungkan aspek religius, sosial, dan mental dalam satu kesatuan strategi penyuluhan. Model ini memungkinkan penyuluhan tidak hanya berfokus pada aspek keilmuan saja, tetapi juga integrasi nilai-nilai budaya, sosial, dan keagamaan yang relevan dengan kondisi audiens. Pendekatan integratif sering dianggap lebih komprehensif karena memperhatikan konteks sosial dan kultural masyarakat terkait. 

Implementasi Manajemen Penyuluhan di Program Studi BPI

Implementasi manajemen penyuluhan dalam program studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) dimulai dengan penyusunan kurikulum yang komprehensif. Kurikulum ini tidak hanya berfokus pada teori penyuluhan, tetapi juga mencakup keterampilan komunikasi dan teknik penyampaian materi. Kurikulum yang baik akan membekali mahasiswa dengan kompetensi yang diperlukan untuk menjadi penyuluh yang profesional di masyarakat. (muhsinsaad.blogspot.com)

Praktik lapangan, magang di lembaga dakwah, dan program pengabdian masyarakat menjadi bentuk nyata dari pelaksanaan penyuluhan. Kegiatan ini memungkinkan mahasiswa menerapkan ilmu yang telah dipelajari dalam situasi yang real dan beragam. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan peserta, serta refleksi mahasiswa atas pengalaman mereka di lapangan. Hal ini penting untuk mengukur keberhasilan kegiatan dan memperbaiki strategi penyuluhan di masa mendatang. 

Penggunaan teknologi informasi juga menjadi bagian dari implementasi manajemen penyuluhan modern. Teknologi seperti media digital, aplikasi komunikasi, atau video edukatif membantu menjangkau audiens yang lebih luas dengan cara yang lebih efisien. Dengan teknologi, penyuluh dapat melakukan penyuluhan secara hybrid atau daring sehingga pesan dapat tersampaikan dalam berbagai kondisi. 

Kendala dalam Manajemen Penyuluhan dan Solusinya

Salah satu kendala utama dalam manajemen penyuluhan adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi tenaga penyuluh maupun fasilitas pendukung. Ketika sumber daya terbatas, kapasitas penyuluhan menjadi kurang optimal, sehingga pesan yang disampaikan mungkin tidak mencapai semua audiens yang membutuhkan. Untuk mengatasi ini, pelatihan dan workshops bagi penyuluh sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka.

Masalah lain yang sering muncul adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyuluhan. Kurangnya keterlibatan ini sering disebabkan oleh kurangnya komunikasi atau strategi yang relevan dengan kebutuhan audiens. Salah satu solusi yang efektif adalah melakukan pendekatan awal kepada tokoh masyarakat atau pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi kebutuhan nyata audiens sebelum kegiatan penyuluhan dilaksanakan. 

Kendala komunikasi juga dapat muncul ketika materi penyuluhan terlalu berat atau disampaikan dengan metode yang kurang menarik. Solusi untuk kendala ini termasuk penggunaan media yang relevan, penyampaian materi yang komunikatif, serta adaptasi bahasa dan contoh yang sesuai dengan karakter masyarakat sasaran. Perbaikan berkelanjutan melalui evaluasi rutin dan feedback dari peserta juga membantu meningkatkan kualitas penyuluhan di periode berikutnya.