Senin, 13 Oktober 2025

Ilmu Kalam 6

 

Pemikiran Asy’ariyah dan Maturidiyah

Oleh : Mukhsin, S.Pd.I., M. Pd
Ka. Prodi PAI STAI AF Makassar


Abstrak

Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan dua tradisi teologis utama dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memainkan peranan penting dalam pembentukan doktrin, pendidikan, dan kehidupan intelektual Muslim Sunni. Kajian ini membandingkan aspek historis, epistemologis, teologis (sifat Allah, tauhid), serta masalah qada–qadar dan implikasinya pada praktik keagamaan kontemporer. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif berbasis kajian pustaka klasik dan literatur modern. Hasil menunjukkan persamaan tujuan teologis namun perbedaan metodologis terutama dalam relasi akal–wahyu dan penafsiran sifat-sifat Ilahi. Kajian ini menawarkan sintesis yang berguna bagi pengajaran Ilmu Kalam di tingkat perguruan tinggi.

Kata kunci: Ilmu Kalam, Asy’ariyah, Maturidiyah, akal dan wahyu, qada-qadar, teologi Sunni.

Pendahuluan 

Ilmu Kalam sebagai disiplin intelektual Islam muncul untuk menjawab persoalan-persoalan doktrinal yang menuntut argumen rasional, seperti sifat Tuhan, takdir, kebebasan manusia, dan legitimasi sumber wahyu. Kajian Kalam terus berkembang seiring dinamika politik dan intelektual di dunia Islam klasik, menghasilkan beberapa aliran besar yang masing-masing menawarkan kerangka teologis berbeda.

Di antara tradisi Sunni, Asy’ariyah dan Maturidiyah menonjol sebagai dua mazhab yang membangun sintesis antara nash (teks) dan rasio. Asy’ariyah diasaskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H / 936 M), yang berupaya merumuskan teologi moderat setelah berinteraksi dengan tradisi Mu’tazilah dan kaum Salaf. Informasi biografis dan peran historis al-Asy’ari dapat ditelusuri dalam literatur abad modern yang merangkum sumber klasik. 

Maturidiyah, dinamakan menurut Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H / 944 M), berkembang di wilayah Transoxiana (Samarkand) dan menjadi pijakan teologis tradisi Hanafi. Al-Maturidi menekankan kapasitas akal untuk mengetahui aspek-aspek dasar agama serta menyeimbangkan antara tuntutan rasional dan otoritas wahyu. Tradisi ini mendapatkan perhatian ulang dalam literatur modern yang mengkaji kontribusinya terhadap epistemologi Islam. 

Perbadingan Asy’ariyah dan Maturidiyah penting tidak hanya secara historis tetapi juga untuk pembelajaran Ilmu Kalam di masa kini: keduanya menyediakan alternatif terhadap ekstremisme rasionalistis maupun literalistis, sekaligus membentuk landasan bagi teologi moderat di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Literatur kontemporer memperlihatkan minat baru terhadap cara kedua mazhab merespons tantangan modernitas dan hermeneutika teks. 

Sementara kedua mazhab sepakat pada banyak prinsip akidah dasar (mis. tauhid, kenabian, hari akhir), perbedaan metodologis — khususnya perihal kemampuan akal menetapkan kewajiban moral dan cara menafsirkan sifat Ilahi — menjadikan perbandingan sistematis relevan untuk dosen dan mahasiswa Ilmu Kalam. Kajian komparatif membantu mengidentifikasi titik temu praktis dalam pendidikan agama moderat.

Studi-studi terbaru menyoroti bagaimana Maturidiyah sering kali dipandang lebih mengeksplorasi peran akal dalam penetapan norma moral, sedangkan Asy’ariyah cenderung menegaskan prioritas wahyu sambil menerima penggunaan kalam bila perlu. Penelitian modern juga membahas rekontekstualisasi pemikiran Maturidiyah dalam dialog dengan filsafat analitik dan fenomenologi—suatu upaya yang memperkaya literatur klasik. 

Dengan latar itu, artikel ini menyajikan analisis komparatif: (1) sejarah dan konteks lahirnya setiap mazhab; (2) relasi akal dan wahyu; (3) konsep tauhid dan sifat Allah; (4) doktrin qada-qadar; dan (5) relevansi kontemporer. Selain pembahasan naratif, artikel menyertakan tabel perbandingan sistematis untuk membantu pembelajaran dan referensi cepat dalam pengajaran Ilmu Kalam.

Metodologi Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis kajian kepustakaan. Sumber primer meliputi teks-teks klasik (mis. Al-Ibanah al-Asy’ari; karya-karya al-Maturidi dan tafsir-tafsirnya) serta literatur akademik modern (monografi dan artikel jurnal dari 2010–2025) yang membahas revivals dan rekontekstualisasi Asy’ariyah–Maturidiyah. Analisis dilakukan melalui (1) identifikasi tema utama; (2) perbandingan argumentatif; (3) sintesis temuan untuk aplikasi pedagogis. Beberapa sumber modern dipakai untuk menguatkan klaim historis dan interpretatif. 

Hasil dan Pembahasan

1. Latar Historis dan Konteks Kemunculan (5 paragraf)

Asy’ariyah muncul pada abad ke-3 H di timur Arab (Basrah/Kufah area) dalam suasana polarisasi teologis antara Mu’tazilah (rasionalis) dan kelompok tradisionalis. Al-Asy’ari sendiri bermula sebagai murid mu’tazili sebelum merumuskan pendekatan baru yang menggabungkan elemen-elemen rasional dan tekstual.

Proses intelektual al-Asy’ari sering digambarkan sebagai reorientasi: menolak beberapa kesimpulan Mu’tazilah yang dianggap berlebihan, tetapi tetap memakai alat kalam untuk mempertahankan akidah Ahlus Sunnah. Karya-karyanya (sebagian dikompilasi dalam Al-Ibanah) menjadi rujukan utama bagi generasi berikutnya dalam tradisi Ashʿarī.

Maturidiyah berkembang di Samarkand dengan konteks sosial-kultural Persia–Transoxiana dan terkait erat dengan tradisi fiqh Hanafi. Al-Maturidi menulis untuk audiens yang menuntut penjelasan sistematik tentang hubungan akal-wahyu, sehingga karyanya menampakkan struktur argumentatif dan logis yang kuat.

Penyebaran geografi kedua mazhab menunjukkan pola historis: Asy’ariyah kuat di kawasan Arab utara dan Afrika Utara, sementara Maturidiyah lebih dominan di Asia Tengah, Turki Utsmani, anak benua India, dan wilayah yang diasosiasikan dengan fiqh Hanafi. Pola tersebut menjelaskan variasi pengajaran kalam dalam institusi keagamaan regional.

Literatur modern merefleksikan kebangkitan studi komparatif keduanya baik dari perspektif sejarah pemikiran maupun upaya dialog kontemporer menunjukkan bagaimana konteks politik, madrasah, dan kitab-karya klasik membentuk perbedaan penekanan metodologis antara Asy’ariyah dan Maturidiyah. 

2. Konsep Akal dan Wahyu 

Dalam kerangka epistemologis, Asy’ariyah menempatkan wahyu sebagai otoritas primer; akal dianggap berfungsi untuk menjelaskan dan mempertahankan kebenaran wahyu, tetapi bukan untuk menentang teks yang tegas. Oleh karena itu, klaim normatif (apa yang wajib) tidak dapat ditetapkan semata-mata melalui akal menurut kecenderungan klasik Asy’ari.

Namun Asy’ari bukanlah antirasion; ia menggunakan kalam ketika diperlukan untuk menjawab pertanyaan teologis, tetapi menolak inferensi akal ekstrem yang mengubah makna nash. Sikap ini menghasilkan pola argumentasi apologetik yang pragmatis: akal digunakan, tetapi wahyu tetap memegang otoritas final.

Maturidiyah menawarkan penyeimbang berbeda: al-Maturidi memberi peran lebih kuat pada akal dalam mengenali prinsip-prinsip dasar agama (mis. keberadaan Tuhan, kebaikan dan keburukan moral primordial). Dengan demikian, beberapa kewajiban dasar bisa dipahami melalui rasio sebelum rujukan tekstual lengkap.

Perbedaan praktis muncul pada kasus-kasus tertentu misalnya penentuan kewajiban moral atau interpretasi sifat Ilahi di mana Maturidi cenderung memberi ruang interpretatif lebih besar bagi argumen rasional. Hal ini tidak berarti Maturidi menolak wahyu, melainkan menekankan harmonisasi antara nalar dan teks.

Kajian kontemporer merekomendasikan pendekatan pedagogis yang mengajarkan kedua tradisi: menghargai otoritas nash (Asy’ariyah) sekaligus memupuk kemampuan analitik (Maturidiyah) supaya mahasiswa ilmu Kalam mampu memahami dan merespons problematika modern. 

3. Konsep Tauhid dan Sifat Allah 

Kedua mazhab memegang teguh prinsip tauhid; perbedaan muncul pada metodologi menghadapi teks-teks yang menyebut sifat Allah (mis. rukyah/ru’yah, istiwa’, dsb.). Asy’ariyah condong pada sikap bi’lā kayf (menerima teks tanpa menanyakan “bagaimana”) untuk menghindari antropomorfisme.

Dengan strategi tafwid atau ta’wil terbatas, Asy’ari mencari jalan tengah: menolak penyerupaan Tuhan dengan makhluk sekaligus tidak selalu menafsirkan semua sifat secara alegoris jika itu merendahkan makna literal teks.

Maturidiyah lebih konsisten menggunakan argumen rasional untuk menafsirkan sifat-sifat tersebut dan menekankan atribut-atribut Tuhan dalam konteks kebijaksanaan dan hikmah Ilahi. Pendekatan ini memungkinkan uraian teologis yang lebih koheren antara konsep ketuhanan dan atribut moral-etis.

Perbedaan hermeneutik ini berimplikasi pada cara masing-masing mazhab membentuk konsensus bagi umat: Asy’ariyah memberikan penekanan pada kesatuan komunitas dengan sikap tekstual moderat, sedangkan Maturidiyah menawarkan jalan interpretatif yang lebih eksplisit menggunakan rasio.

Studi modern tentang tafsir dan atribut Ilahi sering merujuk tradisi Maturidi untuk dialog fenomenologis dan tradisi Ashʿarī untuk pendekatan konservatif terhadap nash. kedua pendekatan ini memberi sumber yang kaya bagi diskursus teologis kontemporer. 

4. Konsep Qada dan Qadar (Takdir) 

Doktrin takdir adalah salah satu arena perbedaan klasik. Asy’ariyah populer dengan teori kasb (perolehan): Allah menciptakan perbuatan, manusia “memperoleh” (kasb) sehingga bertanggung jawab moral, tetapi penciptaan tindakan tetap mutlak di tangan Allah.

Konsep kasb bertujuan menjaga kemutlakan ketuhanan atas ciptaan sambil mempertahankan akuntabilitas moral manusia—suatu kompromi yang menolak determinisme penuh sekaligus menolak kebebasan mutlak ala Qadariyah.

Maturidiyah memberi porsi lebih luas pada kemampuan manusia untuk memilih; meskipun tidak menyatakan manusia sebagai pencipta tindakan, Maturidi memberikan ruang bagi tanggung jawab dan pilihan yang lebih kuat, sehingga menonjolkan aspek rasional dan etis manusia.

Perbedaan ini mempengaruhi ajaran praktis tentang dosa, pertobatan, dan pembinaan moral: Asy’ariyah cenderung menekankan kedaulatan ilahi dalam rangka penghiburan teologis (God’s sovereignty), sementara Maturidiyah menekankan peran akal dan kehendak manusia dalam pembentukan moralitas.

Literatur kontemporer memanfaatkan kedua model ini untuk membahas isu-isu modern seperti kebebasan berkehendak dalam neuroetika dan tanggung jawab sosial, menunjukkan bahwa warisan kalam klasik masih relevan untuk debat etika kontemporer.

5. Relevansi terhadap Teologi Islam Kontemporer 

Pada era modern, keduanya menjadi rujukan utama bagi pembentukan teologi moderat yang menolak pemahaman ekstrem baik yang rasionalis absolut maupun literalistis sempit. Perguruan tinggi Islam dan kitab-karya modern sering mengintegrasikan konsep-konsep dari kedua tradisi.

Keterbacaan Asy’ariyah terhadap teks membuatnya sering dipakai dalam konteks dakwah konservatif yang tetap membutuhkan legitimasi tekstual; sedangkan Maturidiyah lebih sering dirujuk pada diskursus interdisipliner yang mengaitkan teologi dengan filsafat dan epistemologi.

Upaya rekontekstualisasi (mis. Ramon Harvey dan penulis kontemporer lain) menunjukkan bahwa warisan Maturidi cocok untuk dialog dengan filsafat analitik dan fenomenologi, sementara studi Asy’ari terkini menyoroti dinamika historis serta variasi aplikasi dalam dunia Islam Afrika Utara dan Timur Tengah. 

Di arena politik-agama, kedua tradisi kadang digunakan untuk membangun legitimasi moderasi dan kerangka hukum keagamaan yang menghindarkan ekstremisme. Dalam pendidikan, pengajaran komparatif membantu mahasiswa memahami pluralitas metodologis dalam tradisi Sunni.

Rekomendasi pedagogis: (a) ajarkan sumber primer beserta kritik historis; (b) bandingkan argumentasi klasik dan modern; (c) latih mahasiswa membuat sintesis aplikasi teologis untuk isu kontemporer (bioetika, pluralisme, kebebasan beragama), sehingga ilmu Kalam tidak sekadar arkeologi pemikiran tetapi alat praktis merespons tantangan masa kini.

Tabel Perbandingan Sistematis: Asy’ariyah vs Maturidiyah

Aspek utama

Asy’ariyah

Maturidiyah

Pendiri & masa

Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H / 936 M). 

Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H / 944 M). 

Sumber kebenaran

Wahyu (nash) primer; akal sebagai pembantu/penjelas

Wahyu dan akal seimbang; akal dapat menetapkan beberapa kebenaran moral dasar

Peran akal

Terbatas pada konfirmasi nash; penggunaan kalam defensif

Lebih besar: akal dapat menunjang pengetahuan agama dasar sebelum nash

Penafsiran sifat Allah

Sikap bi’lā kayf; tafwid/ta’wil konservatif

Pendekatan rasional dalam menafsirkan atribut; penekanan hikmah Ilahi

Takdir & kebebasan

Teori kasb (penciptaan tindakan oleh Allah; perolehan oleh manusia)

Menekankan kapasitas pilihan manusia lebih kuat (tetap dalam kerangka kehendak Ilahi)

Metode hermeneutik

Tekstual moderat + kalam; berhati-hati terhadap alegorisasi berlebih

Sistematik rasional; lebih siap untuk interpretasi akli

Wilayah sejarah dominan

Arab Utara, Afrika Utara, sebagian Timur Tengah. 

Asia Tengah, Turki, anak benua India (tradisi Hanafi). 

Kecenderungan pedagogis modern

Pengajaran yang memprioritaskan kesetiaan nash dan konsensus sunnah

Pengajaran yang memadukan rasio dan teks; sering dipakai dalam dialog filsafat-teologi modern. 

Kesimpulan

Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan dua pilar teologis Sunni yang sama-sama bertujuan menjaga kemurnian tauhid dan integritas keimanan umat. Perbedaan utama terletak pada metodologi: Asy’ariyah menegaskan supremasi nash dengan penggunaan kalam selektif; Maturidiyah memberi bobot lebih besar pada penggunaan rasio untuk menafsirkan dan memahami ajaran agama. Dalam konteks pendidikan Ilmu Kalam, pendekatan komparatif yang memadukan kekuatan keduanya akan membantu membentuk pemikiran keagamaan yang moderat, rasional, dan kontekstual. Kajian dan aplikasi modern, baik dalam diskursus filsafat maupun pendidikan keagamaan menunjukkan relevansi keduanya untuk menghadapi tantangan etika, hermeneutika, dan pluralisme masa kini. 

Daftar Pustaka (terpilih & terbaru)

Sumber klasik (rujukan teks primer — disarankan untuk dicantumkan edisi/terjemahan saat submit ke jurnal):

  • Al-Asy’ari, Abu al-Hasan. Al-Ibanah ’an Ushul al-Diyānah (ed./terj. sesuai edisi).

  • Al-Maturidi, Abu Mansur. Kitab al-Tauhid / Ta’wilat Ahl al-Sunnah (ed./terj. sesuai edisi).

Studi modern & artikel terbaru (2010–2025):

  • Harvey, Ramon. Transcendent God, Rational World: A Māturīdī Theology. Edinburgh University Press, 2021. 

  • [Artikel kajian Asy’ari kontemporer], Theological Polemics In The Interpretation…, 2025. 

  • [Studi perbandingan Maturidi dan Shafi‘i], Mustafa Kamil Thahir, The Conformity of Maturidiyah Theology to Sunni Islam with the Shafi'i School of Thought, 2025. Journal of Social Research

  • Prinsip-prinsip al-Maturidi pada sifat Ilahi — artikel pengantar & analisis (ResearchGate, 2025). ResearchGate

  • Wikipedia entries (untuk ringkasan historis cepat: Abu al-Hasan al-Ash'ari; Maturidism). Wikipedia+1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar