Pemikiran Asy’ariyah dan Maturidiyah
Abstrak
Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan dua tradisi teologis utama dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memainkan peranan penting dalam pembentukan doktrin, pendidikan, dan kehidupan intelektual Muslim Sunni. Kajian ini membandingkan aspek historis, epistemologis, teologis (sifat Allah, tauhid), serta masalah qada–qadar dan implikasinya pada praktik keagamaan kontemporer. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif berbasis kajian pustaka klasik dan literatur modern. Hasil menunjukkan persamaan tujuan teologis namun perbedaan metodologis terutama dalam relasi akal–wahyu dan penafsiran sifat-sifat Ilahi. Kajian ini menawarkan sintesis yang berguna bagi pengajaran Ilmu Kalam di tingkat perguruan tinggi.
Kata kunci: Ilmu Kalam, Asy’ariyah, Maturidiyah, akal dan wahyu, qada-qadar, teologi Sunni.
Pendahuluan
Ilmu Kalam sebagai disiplin intelektual Islam muncul untuk menjawab
persoalan-persoalan doktrinal yang menuntut argumen rasional, seperti sifat
Tuhan, takdir, kebebasan manusia, dan legitimasi sumber wahyu. Kajian Kalam
terus berkembang seiring dinamika politik dan intelektual di dunia Islam
klasik, menghasilkan beberapa aliran besar yang masing-masing menawarkan
kerangka teologis berbeda.
Di antara tradisi Sunni, Asy’ariyah dan
Maturidiyah menonjol sebagai dua mazhab yang membangun sintesis antara nash
(teks) dan rasio. Asy’ariyah diasaskan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H /
936 M), yang berupaya merumuskan teologi moderat setelah berinteraksi dengan
tradisi Mu’tazilah dan kaum Salaf. Informasi biografis dan peran historis
al-Asy’ari dapat ditelusuri dalam literatur abad modern yang merangkum sumber
klasik.
Maturidiyah, dinamakan menurut Abu Mansur
al-Maturidi (w. 333 H / 944 M), berkembang di wilayah Transoxiana (Samarkand)
dan menjadi pijakan teologis tradisi Hanafi. Al-Maturidi menekankan kapasitas
akal untuk mengetahui aspek-aspek dasar agama serta menyeimbangkan antara
tuntutan rasional dan otoritas wahyu. Tradisi ini mendapatkan perhatian ulang
dalam literatur modern yang mengkaji kontribusinya terhadap epistemologi Islam.
Perbadingan Asy’ariyah dan Maturidiyah
penting tidak hanya secara historis tetapi juga untuk pembelajaran Ilmu Kalam
di masa kini: keduanya menyediakan alternatif terhadap ekstremisme
rasionalistis maupun literalistis, sekaligus membentuk landasan bagi teologi
moderat di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Literatur kontemporer
memperlihatkan minat baru terhadap cara kedua mazhab merespons tantangan
modernitas dan hermeneutika teks.
Sementara kedua mazhab sepakat pada banyak
prinsip akidah dasar (mis. tauhid, kenabian, hari akhir), perbedaan metodologis
— khususnya perihal kemampuan akal menetapkan kewajiban moral dan cara
menafsirkan sifat Ilahi — menjadikan perbandingan sistematis relevan untuk
dosen dan mahasiswa Ilmu Kalam. Kajian komparatif membantu mengidentifikasi
titik temu praktis dalam pendidikan agama moderat.
Studi-studi terbaru menyoroti bagaimana
Maturidiyah sering kali dipandang lebih mengeksplorasi peran akal dalam
penetapan norma moral, sedangkan Asy’ariyah cenderung menegaskan prioritas
wahyu sambil menerima penggunaan kalam bila perlu. Penelitian modern juga
membahas rekontekstualisasi pemikiran Maturidiyah dalam dialog dengan filsafat
analitik dan fenomenologi—suatu upaya yang memperkaya literatur klasik.
Dengan latar itu, artikel ini menyajikan analisis komparatif: (1) sejarah dan konteks lahirnya setiap mazhab; (2) relasi akal dan wahyu; (3) konsep tauhid dan sifat Allah; (4) doktrin qada-qadar; dan (5) relevansi kontemporer. Selain pembahasan naratif, artikel menyertakan tabel perbandingan sistematis untuk membantu pembelajaran dan referensi cepat dalam pengajaran Ilmu Kalam.
Metodologi Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis kajian kepustakaan. Sumber primer meliputi teks-teks klasik (mis. Al-Ibanah al-Asy’ari; karya-karya al-Maturidi dan tafsir-tafsirnya) serta literatur akademik modern (monografi dan artikel jurnal dari 2010–2025) yang membahas revivals dan rekontekstualisasi Asy’ariyah–Maturidiyah. Analisis dilakukan melalui (1) identifikasi tema utama; (2) perbandingan argumentatif; (3) sintesis temuan untuk aplikasi pedagogis. Beberapa sumber modern dipakai untuk menguatkan klaim historis dan interpretatif.
Hasil dan Pembahasan
1. Latar Historis dan Konteks Kemunculan (5 paragraf)
Asy’ariyah muncul pada abad ke-3 H di timur Arab (Basrah/Kufah area) dalam
suasana polarisasi teologis antara Mu’tazilah (rasionalis) dan kelompok
tradisionalis. Al-Asy’ari sendiri bermula sebagai murid mu’tazili sebelum
merumuskan pendekatan baru yang menggabungkan elemen-elemen rasional dan
tekstual.
Proses intelektual al-Asy’ari sering
digambarkan sebagai reorientasi: menolak beberapa kesimpulan Mu’tazilah yang
dianggap berlebihan, tetapi tetap memakai alat kalam untuk mempertahankan
akidah Ahlus Sunnah. Karya-karyanya (sebagian dikompilasi dalam Al-Ibanah) menjadi rujukan utama bagi
generasi berikutnya dalam tradisi Ashʿarī.
Maturidiyah berkembang di Samarkand dengan
konteks sosial-kultural Persia–Transoxiana dan terkait erat dengan tradisi fiqh
Hanafi. Al-Maturidi menulis untuk audiens yang menuntut penjelasan sistematik
tentang hubungan akal-wahyu, sehingga karyanya menampakkan struktur
argumentatif dan logis yang kuat.
Penyebaran geografi kedua mazhab
menunjukkan pola historis: Asy’ariyah kuat di kawasan Arab utara dan Afrika
Utara, sementara Maturidiyah lebih dominan di Asia Tengah, Turki Utsmani, anak
benua India, dan wilayah yang diasosiasikan dengan fiqh Hanafi. Pola tersebut
menjelaskan variasi pengajaran kalam dalam institusi keagamaan regional.
Literatur modern merefleksikan kebangkitan studi komparatif keduanya baik dari perspektif sejarah pemikiran maupun upaya dialog kontemporer menunjukkan bagaimana konteks politik, madrasah, dan kitab-karya klasik membentuk perbedaan penekanan metodologis antara Asy’ariyah dan Maturidiyah.
2. Konsep Akal dan Wahyu
Dalam kerangka epistemologis, Asy’ariyah menempatkan wahyu sebagai otoritas
primer; akal dianggap berfungsi untuk menjelaskan dan mempertahankan kebenaran
wahyu, tetapi bukan untuk menentang teks yang tegas. Oleh karena itu, klaim
normatif (apa yang wajib) tidak dapat ditetapkan semata-mata melalui akal
menurut kecenderungan klasik Asy’ari.
Namun Asy’ari bukanlah antirasion; ia
menggunakan kalam ketika diperlukan untuk menjawab pertanyaan teologis, tetapi
menolak inferensi akal ekstrem yang mengubah makna nash. Sikap ini menghasilkan
pola argumentasi apologetik yang pragmatis: akal digunakan, tetapi wahyu tetap
memegang otoritas final.
Maturidiyah menawarkan penyeimbang
berbeda: al-Maturidi memberi peran lebih kuat pada akal dalam mengenali
prinsip-prinsip dasar agama (mis. keberadaan Tuhan, kebaikan dan keburukan
moral primordial). Dengan demikian, beberapa kewajiban dasar bisa dipahami
melalui rasio sebelum rujukan tekstual lengkap.
Perbedaan praktis muncul pada kasus-kasus
tertentu misalnya penentuan kewajiban moral atau interpretasi sifat Ilahi di
mana Maturidi cenderung memberi ruang interpretatif lebih besar bagi argumen
rasional. Hal ini tidak berarti Maturidi menolak wahyu, melainkan menekankan
harmonisasi antara nalar dan teks.
Kajian kontemporer merekomendasikan pendekatan pedagogis yang mengajarkan kedua tradisi: menghargai otoritas nash (Asy’ariyah) sekaligus memupuk kemampuan analitik (Maturidiyah) supaya mahasiswa ilmu Kalam mampu memahami dan merespons problematika modern.
3. Konsep Tauhid dan Sifat Allah
Kedua mazhab memegang teguh prinsip tauhid; perbedaan muncul pada metodologi
menghadapi teks-teks yang menyebut sifat Allah (mis. rukyah/ru’yah, istiwa’,
dsb.). Asy’ariyah condong pada sikap bi’lā
kayf (menerima teks tanpa menanyakan “bagaimana”) untuk menghindari
antropomorfisme.
Dengan strategi tafwid atau ta’wil terbatas,
Asy’ari mencari jalan tengah: menolak penyerupaan Tuhan dengan makhluk
sekaligus tidak selalu menafsirkan semua sifat secara alegoris jika itu
merendahkan makna literal teks.
Maturidiyah lebih konsisten menggunakan
argumen rasional untuk menafsirkan sifat-sifat tersebut dan menekankan
atribut-atribut Tuhan dalam konteks kebijaksanaan dan hikmah Ilahi. Pendekatan
ini memungkinkan uraian teologis yang lebih koheren antara konsep ketuhanan dan
atribut moral-etis.
Perbedaan hermeneutik ini berimplikasi
pada cara masing-masing mazhab membentuk konsensus bagi umat: Asy’ariyah
memberikan penekanan pada kesatuan komunitas dengan sikap tekstual moderat,
sedangkan Maturidiyah menawarkan jalan interpretatif yang lebih eksplisit
menggunakan rasio.
Studi modern tentang tafsir dan atribut Ilahi sering merujuk tradisi Maturidi untuk dialog fenomenologis dan tradisi Ashʿarī untuk pendekatan konservatif terhadap nash. kedua pendekatan ini memberi sumber yang kaya bagi diskursus teologis kontemporer.
4. Konsep Qada dan Qadar (Takdir)
Doktrin
takdir adalah salah satu arena perbedaan klasik. Asy’ariyah populer dengan
teori kasb (perolehan):
Allah menciptakan perbuatan, manusia “memperoleh” (kasb) sehingga bertanggung
jawab moral, tetapi penciptaan tindakan tetap mutlak di tangan Allah.
Konsep kasb bertujuan menjaga kemutlakan ketuhanan atas
ciptaan sambil mempertahankan akuntabilitas moral manusia—suatu kompromi yang
menolak determinisme penuh sekaligus menolak kebebasan mutlak ala Qadariyah.
Maturidiyah memberi porsi lebih luas pada
kemampuan manusia untuk memilih; meskipun tidak menyatakan manusia sebagai
pencipta tindakan, Maturidi memberikan ruang bagi tanggung jawab dan pilihan
yang lebih kuat, sehingga menonjolkan aspek rasional dan etis manusia.
Perbedaan ini mempengaruhi ajaran praktis
tentang dosa, pertobatan, dan pembinaan moral: Asy’ariyah cenderung menekankan
kedaulatan ilahi dalam rangka penghiburan teologis (God’s sovereignty),
sementara Maturidiyah menekankan peran akal dan kehendak manusia dalam
pembentukan moralitas.
Literatur kontemporer memanfaatkan kedua model ini untuk membahas isu-isu modern seperti kebebasan berkehendak dalam neuroetika dan tanggung jawab sosial, menunjukkan bahwa warisan kalam klasik masih relevan untuk debat etika kontemporer.
5. Relevansi terhadap Teologi Islam Kontemporer
Keterbacaan Asy’ariyah terhadap teks
membuatnya sering dipakai dalam konteks dakwah konservatif yang tetap
membutuhkan legitimasi tekstual; sedangkan Maturidiyah lebih sering dirujuk
pada diskursus interdisipliner yang mengaitkan teologi dengan filsafat dan
epistemologi.
Upaya rekontekstualisasi (mis. Ramon Harvey
dan penulis kontemporer lain) menunjukkan bahwa warisan Maturidi cocok untuk
dialog dengan filsafat analitik dan fenomenologi, sementara studi Asy’ari
terkini menyoroti dinamika historis serta variasi aplikasi dalam dunia Islam
Afrika Utara dan Timur Tengah.
Di arena politik-agama, kedua tradisi kadang
digunakan untuk membangun legitimasi moderasi dan kerangka hukum keagamaan yang
menghindarkan ekstremisme. Dalam pendidikan, pengajaran komparatif membantu
mahasiswa memahami pluralitas metodologis dalam tradisi Sunni.
Rekomendasi pedagogis: (a) ajarkan sumber
primer beserta kritik historis; (b) bandingkan argumentasi klasik dan modern;
(c) latih mahasiswa membuat sintesis aplikasi teologis untuk isu kontemporer
(bioetika, pluralisme, kebebasan beragama), sehingga ilmu Kalam tidak sekadar
arkeologi pemikiran tetapi alat praktis merespons tantangan masa kini.
Tabel Perbandingan Sistematis: Asy’ariyah vs Maturidiyah
|
Aspek
utama |
Asy’ariyah |
Maturidiyah |
|
Pendiri & masa |
Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H
/ 936 M). |
Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H /
944 M). |
|
Sumber kebenaran |
Wahyu (nash) primer; akal sebagai
pembantu/penjelas |
Wahyu dan akal seimbang; akal
dapat menetapkan beberapa kebenaran moral dasar |
|
Peran akal |
Terbatas pada konfirmasi nash;
penggunaan kalam defensif |
Lebih besar: akal dapat menunjang
pengetahuan agama dasar sebelum nash |
|
Penafsiran sifat Allah |
Sikap bi’lā kayf;
tafwid/ta’wil konservatif |
Pendekatan rasional dalam
menafsirkan atribut; penekanan hikmah Ilahi |
|
Takdir & kebebasan |
Teori kasb (penciptaan
tindakan oleh Allah; perolehan oleh manusia) |
Menekankan kapasitas pilihan
manusia lebih kuat (tetap dalam kerangka kehendak Ilahi) |
|
Metode hermeneutik |
Tekstual moderat + kalam;
berhati-hati terhadap alegorisasi berlebih |
Sistematik rasional; lebih siap
untuk interpretasi akli |
|
Wilayah sejarah dominan |
Arab Utara, Afrika Utara, sebagian
Timur Tengah. |
Asia Tengah, Turki, anak benua
India (tradisi Hanafi). |
|
Kecenderungan pedagogis modern |
Pengajaran yang memprioritaskan
kesetiaan nash dan konsensus sunnah |
Pengajaran yang memadukan rasio
dan teks; sering dipakai dalam dialog filsafat-teologi modern. |
Kesimpulan
Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan dua pilar teologis Sunni yang sama-sama bertujuan menjaga kemurnian tauhid dan integritas keimanan umat. Perbedaan utama terletak pada metodologi: Asy’ariyah menegaskan supremasi nash dengan penggunaan kalam selektif; Maturidiyah memberi bobot lebih besar pada penggunaan rasio untuk menafsirkan dan memahami ajaran agama. Dalam konteks pendidikan Ilmu Kalam, pendekatan komparatif yang memadukan kekuatan keduanya akan membantu membentuk pemikiran keagamaan yang moderat, rasional, dan kontekstual. Kajian dan aplikasi modern, baik dalam diskursus filsafat maupun pendidikan keagamaan menunjukkan relevansi keduanya untuk menghadapi tantangan etika, hermeneutika, dan pluralisme masa kini.
Daftar Pustaka (terpilih & terbaru)
Sumber klasik (rujukan teks primer — disarankan untuk dicantumkan edisi/terjemahan saat submit ke jurnal):
-
Al-Asy’ari, Abu al-Hasan. Al-Ibanah ’an Ushul al-Diyānah (ed./terj. sesuai edisi).
-
Al-Maturidi, Abu Mansur. Kitab al-Tauhid / Ta’wilat Ahl al-Sunnah (ed./terj. sesuai edisi).
Studi modern & artikel terbaru (2010–2025):
-
Harvey, Ramon. Transcendent God, Rational World: A Māturīdī Theology. Edinburgh University Press, 2021.
-
[Artikel kajian Asy’ari kontemporer], Theological Polemics In The Interpretation…, 2025.
-
[Studi perbandingan Maturidi dan Shafi‘i], Mustafa Kamil Thahir, The Conformity of Maturidiyah Theology to Sunni Islam with the Shafi'i School of Thought, 2025. Journal of Social Research
-
Prinsip-prinsip al-Maturidi pada sifat Ilahi — artikel pengantar & analisis (ResearchGate, 2025). ResearchGate
-
Wikipedia entries (untuk ringkasan historis cepat: Abu al-Hasan al-Ash'ari; Maturidism). Wikipedia+1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar