Struktur Sosial & Pendidikan Islam
Abstrak
Artikel ini membahas hubungan antara struktur sosial dan pendidikan Islam dalam perspektif sosiologis. Struktur sosial sebagai tatanan yang mengatur interaksi masyarakat memiliki peran strategis dalam membentuk sistem pendidikan Islam, baik dari segi nilai, peran sosial, maupun lembaga pendidikan. Pendidikan Islam, di sisi lain, tidak hanya sebagai instrumen pewarisan budaya dan ajaran agama, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengarahkan masyarakat menuju tatanan yang lebih adil, berkeadaban, dan religius. Melalui analisis teoritis dan refleksi empiris, tulisan ini menegaskan bahwa pendidikan Islam harus dipahami sebagai bagian integral dari struktur sosial yang dinamis, sehingga fungsinya dapat optimal dalam mencetak generasi Muslim yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kata kunci: Struktur sosial, pendidikan Islam, sosiologi pendidikan, perubahan sosial, masyarakat Muslim.
Pendahuluan
Struktur sosial merupakan konsep kunci dalam sosiologi yang merujuk pada pola hubungan yang relatif stabil di antara individu, kelompok, dan institusi dalam masyarakat (Soekanto, 2017). Pola ini menciptakan keteraturan sosial yang memungkinkan masyarakat berfungsi secara teratur. Dalam kerangka pendidikan, struktur sosial menjadi landasan dalam menentukan arah kebijakan, stratifikasi, dan peran lembaga pendidikan.
Pendidikan Islam sebagai salah satu subsistem sosial tidak dapat dilepaskan dari dinamika struktur sosial yang melingkupinya. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat Muslim yang memiliki norma, nilai, dan tradisi. Oleh karena itu, mempelajari hubungan antara struktur sosial dan pendidikan Islam berarti mempelajari bagaimana pendidikan Islam berfungsi dalam kerangka sosial yang lebih luas.
Pendidikan Islam pada dasarnya bukan hanya instrumen pewarisan ilmu pengetahuan agama, tetapi juga sarana pembentukan karakter, internalisasi nilai, dan persiapan generasi untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Hal ini sejalan dengan pandangan Durkheim (1995) bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam proses sosialisasi individu ke dalam masyarakat.
Hubungan timbal balik antara struktur sosial dan pendidikan Islam bersifat dialektis. Struktur sosial memengaruhi bentuk dan isi pendidikan Islam, sementara pendidikan Islam juga memiliki kapasitas untuk membentuk ulang struktur sosial. Hal ini menegaskan bahwa keduanya tidak dapat dipahami secara terpisah, melainkan sebagai dua dimensi yang saling melengkapi.
Dalam konteks modern, globalisasi, modernisasi, dan perkembangan teknologi turut mengubah struktur sosial masyarakat Muslim. Perubahan tersebut menuntut adanya penyesuaian dalam sistem pendidikan Islam agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara konservasi nilai tradisional dan inovasi kurikulum.
Fenomena stratifikasi sosial, mobilitas sosial, serta otoritas keagamaan dalam masyarakat juga memberi dampak signifikan terhadap pendidikan Islam. Misalnya, akses terhadap pendidikan Islam modern lebih mudah dijangkau oleh kelompok elit, sedangkan masyarakat kelas bawah lebih banyak bergantung pada lembaga tradisional seperti madrasah dan pesantren (Rahardjo, 2019).
Artikel ini bertujuan mengkaji keterkaitan antara struktur sosial dan pendidikan Islam dengan menekankan dua arah hubungan: pengaruh struktur sosial terhadap pendidikan Islam, serta kontribusi pendidikan Islam dalam membentuk dan mentransformasi struktur sosial. Kajian ini diharapkan memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan sosiologi pendidikan Islam, sekaligus menjadi refleksi praktis bagi perbaikan sistem pendidikan Islam di Indonesia dan dunia Muslim pada umumnya.
Kajian Teoritis
1. Struktur Sosial dalam Perspektif Sosiologi
Struktur sosial adalah tatanan pola hubungan sosial yang relatif stabil dan membentuk kerangka kehidupan masyarakat (Parsons, 1961). Elemen utama struktur sosial meliputi status sosial, peran sosial, norma, nilai, serta institusi yang mengatur interaksi antarindividu dan kelompok. Tanpa struktur sosial, masyarakat akan kehilangan keteraturan.
Menurut teori fungsionalisme struktural, struktur sosial berfungsi menjaga stabilitas dan integrasi sosial (Merton, 1968). Dalam masyarakat Muslim, struktur sosial mencakup peran ulama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, serta nilai-nilai keagamaan yang berfungsi sebagai pedoman perilaku sosial.
Dalam perspektif Islam, struktur sosial tidak hanya dipahami sebagai konstruksi sosial, tetapi juga sebagai amanah dari Allah SWT untuk menegakkan keadilan. Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menegaskan bahwa struktur sosial yang Islami harus berlandaskan prinsip keadilan dan amanah.
2. Pendidikan dalam Perspektif Sosiologi
Pendidikan dipandang sebagai institusi sosial yang memiliki fungsi vital dalam mentransmisikan nilai, norma, dan pengetahuan dari generasi ke generasi (Durkheim, 1995). Ia tidak hanya bersifat konservatif, tetapi juga dapat menjadi instrumen perubahan sosial.
Teori sosiologi pendidikan menekankan fungsi integratif pendidikan, yakni menghubungkan individu dengan masyarakat. Parsons (1961) menekankan bahwa pendidikan berfungsi mempersiapkan individu untuk mengisi peran sosial yang diperlukan dalam struktur masyarakat.
Pendidikan Islam dalam perspektif ini dipandang sebagai sarana sosialisasi nilai-nilai Islam, penguatan identitas keagamaan, serta instrumen untuk menyiapkan umat agar mampu berperan dalam masyarakat yang majemuk. Pendidikan Islam harus berperan aktif dalam menginternalisasikan nilai universal seperti keadilan, toleransi, dan ukhuwah.
3. Pendidikan Islam dan Struktur Sosial
Pendidikan Islam lahir dari tradisi intelektual Islam yang berakar pada Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad ulama. Sejak masa klasik, lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, halaqah, dan pesantren berfungsi sebagai pusat pengkaderan ulama sekaligus penguat struktur sosial Muslim (Makdisi, 1981).
Struktur sosial memengaruhi corak dan orientasi pendidikan Islam. Di satu sisi, lembaga pendidikan Islam berfungsi melestarikan struktur sosial yang ada. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sarana rekonstruksi sosial yang menentang ketidakadilan, seperti perjuangan pendidikan Islam melawan kolonialisme di Nusantara.
Relasi antara pendidikan Islam dan struktur sosial bersifat dialektis. Pendidikan Islam tidak hanya menyesuaikan diri dengan realitas sosial, tetapi juga mengarahkan masyarakat menuju tatanan sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Hal ini sesuai dengan konsep amar ma’ruf nahi munkar sebagai basis perubahan sosial.
Pembahasan
1. Pengaruh Struktur Sosial terhadap Pendidikan Islam
Struktur sosial memberikan dampak signifikan pada akses dan kualitas pendidikan Islam. Stratifikasi sosial memengaruhi siapa yang berhak dan mampu mendapatkan pendidikan berkualitas. Keluarga dari lapisan atas cenderung mengakses sekolah Islam modern, sementara masyarakat bawah lebih banyak mengandalkan pesantren tradisional.
Peran dan status sosial dalam masyarakat Muslim sangat menentukan arah pendidikan. Ulama, kiai, dan tokoh masyarakat memiliki otoritas dalam menentukan corak pendidikan Islam. Posisi mereka dalam struktur sosial sering kali memengaruhi legitimasi kurikulum dan metode pendidikan.
Nilai dan norma sosial juga membentuk corak pendidikan Islam. Di masyarakat yang masih tradisional, pendidikan Islam cenderung mempertahankan pola konservatif. Sebaliknya, di masyarakat urban, pendidikan Islam lebih terbuka terhadap modernisasi dan integrasi ilmu umum dengan ilmu agama.
Struktur sosial juga memengaruhi peran gender dalam pendidikan Islam. Di sebagian masyarakat, perempuan masih menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan tinggi Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam belum sepenuhnya terbebas dari bias struktural.
Dengan demikian, pendidikan Islam tidak dapat dipahami secara terpisah dari struktur sosial. Ia selalu dipengaruhi oleh stratifikasi, norma, dan relasi kekuasaan dalam masyarakat, sehingga reformasi pendidikan Islam harus mempertimbangkan dinamika struktur sosial yang ada.
2. Peran Pendidikan Islam dalam Struktur Sosial
Pendidikan Islam berperan sebagai sarana sosialisasi nilai-nilai Islam. Melalui kurikulum dan pembelajaran, ia menanamkan akhlak mulia, keimanan, dan ketaatan pada syariat Islam. Fungsi ini menjadikan pendidikan Islam sebagai instrumen pelestarian nilai sosial-religius.
Pendidikan Islam juga menjadi sarana mobilitas sosial. Dengan ilmu dan keterampilan yang diperoleh, individu dapat meningkatkan status sosialnya. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).
Selain melestarikan nilai, pendidikan Islam berfungsi sebagai agen transformasi sosial. Ia dapat mendorong perubahan masyarakat ke arah keadilan sosial, kesetaraan gender, dan partisipasi demokratis yang sejalan dengan prinsip Islam.
Peran pendidikan Islam dalam struktur sosial juga terlihat dalam upayanya merespons isu kontemporer, seperti radikalisme, degradasi moral, dan kesenjangan sosial. Pendidikan Islam berfungsi sebagai benteng moral sekaligus solusi terhadap problem sosial.
Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya sebagai instrumen reproduksi nilai sosial, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif mengarahkan struktur sosial menuju masyarakat Islami yang adil, egaliter, dan bermartabat.
3. Relasi Dialektis antara Struktur Sosial dan Pendidikan Islam
Relasi antara struktur sosial dan pendidikan Islam bersifat dialektis, yaitu saling memengaruhi dan membentuk. Struktur sosial memengaruhi bentuk lembaga pendidikan Islam, sementara pendidikan Islam memengaruhi arah perkembangan struktur sosial.
Dalam masyarakat yang sedang mengalami modernisasi, pendidikan Islam terdorong untuk melakukan inovasi kurikulum agar relevan dengan kebutuhan global. Misalnya, integrasi ilmu agama dengan sains modern di beberapa perguruan tinggi Islam.
Sebaliknya, pendidikan Islam juga memiliki peran normatif dalam membentuk struktur sosial. Ia berperan dalam mencetak generasi Muslim yang berakhlak mulia, sehingga struktur sosial masyarakat diarahkan pada prinsip keadilan dan persaudaraan.
Relasi dialektis ini menuntut adanya reformasi berkelanjutan dalam pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam harus mampu membaca dinamika sosial sekaligus menawarkan solusi berbasis nilai Islam.
Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya pasif mengikuti arus struktur sosial, tetapi juga aktif merekonstruksi tatanan sosial agar lebih sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Kesimpulan
Pendidikan Islam dan struktur sosial merupakan dua elemen yang saling terkait dan saling memengaruhi. Struktur sosial memengaruhi bentuk, isi, dan praktik pendidikan Islam, sementara pendidikan Islam memiliki fungsi konservatif sekaligus transformasional terhadap struktur sosial. Hubungan keduanya bersifat dialektis dan dinamis, sehingga pendidikan Islam harus terus beradaptasi dengan perubahan struktur sosial tanpa kehilangan nilai fundamentalnya.
Pengembangan pendidikan Islam perlu memperhatikan realitas sosial sekaligus berupaya membentuk struktur sosial yang Islami, adil, dan egaliter. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya menjadi instrumen pewarisan nilai, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial menuju masyarakat Muslim yang lebih maju dan bermartabat.
Daftar Pustaka (contoh gaya APA)
-
Durkheim, E. (1995). Moral Education. New York: Free Press.
-
Makdisi, G. (1981). The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West. Edinburgh: Edinburgh University Press.
-
Merton, R. K. (1968). Social Theory and Social Structure. New York: Free Press.
-
Parsons, T. (1961). Theories of Society: Foundations of Modern Sociological Theory. New York: Free Press.
-
Rahardjo, M. D. (2019). Islam dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: LKiS.
-
Soekanto, S. (2017). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar