PENGANTAR KURIKULUM KLASIK DAN MODERN: TELAAH KONSEPTUAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
Ka. Prodi PAI STAI Al Furqan Makassar
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pengertian kurikulum klasik dan kurikulum modern dalam perspektif teori pendidikan. Kurikulum klasik berorientasi pada isi (subject-centered) dan transmisi pengetahuan yang bersifat tetap, sedangkan kurikulum modern berorientasi pada peserta didik (student-centered) dan pengembangan kompetensi secara holistik. Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan paradigma kurikulum dipengaruhi oleh perkembangan filsafat pendidikan, psikologi belajar, serta dinamika sosial dan globalisasi. Integrasi nilai-nilai klasik dan modern menjadi pendekatan yang relevan dalam pengembangan kurikulum kontemporer.
Kata Kunci: kurikulum klasik, kurikulum modern, teori kurikulum, pendidikan.
Pendahuluan
Kurikulum merupakan elemen sentral dalam sistem pendidikan yang menentukan arah, isi, dan proses pembelajaran. Ia bukan sekadar daftar mata pelajaran, tetapi keseluruhan pengalaman belajar yang dirancang untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, perubahan kurikulum selalu mencerminkan perubahan orientasi pendidikan dalam suatu masyarakat.
Dalam sejarah perkembangan pendidikan, kurikulum mengalami transformasi yang signifikan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh dinamika pemikiran filsafat, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tuntutan sosial yang terus berkembang. Kurikulum tidak bersifat statis, melainkan adaptif terhadap konteks zaman.
Salah satu dikotomi penting dalam kajian teori kurikulum adalah pembedaan antara kurikulum klasik dan kurikulum modern. Kedua model ini merepresentasikan paradigma yang berbeda dalam memahami hakikat pengetahuan, peran guru, serta posisi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Kurikulum klasik lahir dari tradisi pendidikan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai warisan budaya yang harus ditransmisikan secara sistematis kepada generasi berikutnya. Pengetahuan dipandang objektif dan tetap, sehingga tugas pendidikan adalah mentransfernya secara utuh dan terstruktur.
Sebaliknya, kurikulum modern berkembang sebagai respons terhadap kritik atas pendekatan tradisional yang dianggap terlalu kaku dan kurang memperhatikan kebutuhan individu peserta didik. Kurikulum modern menekankan pentingnya pengalaman belajar, kreativitas, serta pengembangan potensi secara menyeluruh.
Perkembangan psikologi pendidikan, khususnya teori belajar konstruktivistik dan humanistik, turut mendorong lahirnya paradigma kurikulum yang lebih fleksibel dan berorientasi pada peserta didik. Pendidikan dipandang sebagai proses interaktif yang melibatkan pengalaman dan refleksi.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan menguraikan secara sistematis pengertian kurikulum klasik dan kurikulum modern, karakteristik masing-masing, serta implikasinya dalam praktik pendidikan kontemporer.
Pengertian Kurikulum Klasik
Kurikulum klasik adalah model kurikulum yang berorientasi pada materi pelajaran (subject-centered curriculum) dan bertujuan mentransmisikan pengetahuan yang dianggap esensial kepada peserta didik. Dalam paradigma ini, ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang objektif, tetap, dan harus dikuasai melalui pembelajaran yang sistematis. Kurikulum disusun berdasarkan disiplin ilmu yang terstruktur dan hierarkis.
Landasan filosofis kurikulum klasik banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles yang menekankan rasionalitas dan pembentukan intelektualitas melalui penguasaan ilmu. Dalam perkembangannya, aliran esensialisme dan perenialisme memperkuat orientasi ini dengan menegaskan pentingnya nilai-nilai universal dan pengetahuan inti sebagai dasar pendidikan.
Dalam praktiknya, kurikulum klasik menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran (teacher-centered). Guru berperan sebagai sumber utama informasi dan pengendali proses belajar. Metode yang digunakan cenderung berupa ceramah, hafalan, dan latihan terstruktur yang menekankan ketepatan jawaban.
Menurut Ralph W. Tyler dalam Basic Principles of Curriculum and Instruction, kurikulum dirancang melalui perumusan tujuan yang jelas, pemilihan pengalaman belajar, organisasi materi, dan evaluasi. Meskipun sistematis dan rasional, pendekatan ini tetap berorientasi pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan secara ketat.
Evaluasi dalam kurikulum klasik umumnya berbentuk tes tertulis yang mengukur penguasaan materi. Keberhasilan belajar diukur berdasarkan capaian kognitif dan kemampuan mereproduksi informasi. Dengan demikian, peserta didik cenderung berperan pasif sebagai penerima pengetahuan.
Pengertian Kurikulum Modern
Kurikulum modern merupakan model kurikulum yang berorientasi pada peserta didik (student-centered curriculum) dan menekankan pengalaman belajar sebagai inti proses pendidikan. Pengetahuan dipandang dinamis dan berkembang, sehingga pembelajaran harus memberi ruang bagi eksplorasi, kreativitas, dan refleksi.
Paradigma ini dipengaruhi oleh filsafat progresivisme yang dipelopori oleh John Dewey. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus berangkat dari pengalaman nyata peserta didik dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial yang demokratis. Belajar bukan sekadar menerima informasi, tetapi proses aktif membangun makna.
Kurikulum modern juga dipengaruhi oleh teori psikologi konstruktivisme dan humanisme yang menekankan pentingnya partisipasi aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan. Guru berperan sebagai fasilitator, mediator, dan pembimbing yang menciptakan lingkungan belajar kondusif.
Ciri utama kurikulum modern adalah fleksibilitas, relevansi kontekstual, serta penekanan pada pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Penilaian dilakukan secara autentik melalui proyek, portofolio, observasi, dan refleksi.
Di Indonesia, paradigma ini tercermin dalam kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi, penguatan karakter, dan pengembangan profil pelajar Pancasila.
Analisis Perbandingan dan Implikasi
Perbandingan antara kurikulum klasik dan modern menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari orientasi isi menuju orientasi kompetensi dan pengalaman belajar. Kurikulum klasik unggul dalam hal struktur sistematis dan kedalaman materi, sedangkan kurikulum modern unggul dalam fleksibilitas dan relevansi kontekstual.
Secara filosofis, kurikulum klasik berpijak pada pandangan bahwa kebenaran bersifat tetap dan universal. Sebaliknya, kurikulum modern memandang kebenaran sebagai sesuatu yang berkembang dan kontekstual. Perbedaan ini berimplikasi pada strategi pembelajaran dan metode evaluasi yang digunakan.
Dalam praktik pendidikan kontemporer, kedua pendekatan tersebut tidak selalu dipertentangkan secara dikotomis. Banyak sistem pendidikan mengadopsi pendekatan integratif yang memadukan ketegasan struktur klasik dengan fleksibilitas modern.
Implikasi penting bagi pendidik adalah perlunya keseimbangan antara penguasaan materi dan pengembangan kompetensi. Guru tidak hanya bertugas mentransmisikan ilmu, tetapi juga membimbing peserta didik agar mampu berpikir kritis dan adaptif terhadap perubahan.
Dengan demikian, pengembangan kurikulum masa kini idealnya bersifat adaptif, integratif, dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan pendidikan tetap berakar pada nilai dan tradisi, sekaligus responsif terhadap tantangan global dan perkembangan zaman.
Kesimpulan
Kurikulum klasik merupakan kurikulum yang berorientasi pada materi dan transmisi pengetahuan secara sistematis dengan guru sebagai pusat pembelajaran. Sementara itu, kurikulum modern berorientasi pada peserta didik, pengalaman belajar, serta pengembangan kompetensi dan karakter secara holistik. Transformasi paradigma ini dipengaruhi oleh perkembangan filsafat pendidikan, teori belajar, dan tuntutan sosial. Integrasi unsur-unsur terbaik dari kedua model menjadi pendekatan strategis dalam pengembangan kurikulum yang relevan dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Anam, A. (2025). Evolusi Pendidikan Islam dari Konsep Klasik Menuju Paradigma Modern. Akhlaqul Karimah: Jurnal Pendidikan Agama Islam. https://doi.org/10.58353/jak.v4i1.254 (Jurnal Samodra Ilmu)
Sulfaningsih, E., & Nurhidayat, N. (2026). Approaches and Models in the Development of Islamic Religious Education Curriculum. YASIN, 6(1), 1134–1157. https://doi.org/10.58578/yasin.v6i1.9214 (E-Journal Yasin Alsys)
Suryaningrum, E., Muniroh, B., & Gusnita, F. (2025). Kurikulum Pendidikan Islam Modern. Sulawesi Tenggara Educational Journal. https://doi.org/10.54297/seduj.v4i3.802 (Jurnal Unsultra)
Zainuri, H., Aspriady, F., & Nurasikin, N. (2022). Sifat-sifat kurikulum PAI dan pendekatan pembelajaran PAI. AZKIYA. https://doi.org/10.53640/azkiya.v7i1.1685 (E-Jurnal Unikarta)
Islamic Education Curriculum: Between Classical Texts and the Challenges of the Modern Era (2025). Indonesian Journal of Education and Science, 1(4), 153–164. (journal.formadenglishfoundation.org)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar