Ka. Prodi PAI STAI Al Furqan Makassar
Makassar — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kembali digelar dengan khidmat di berbagai daerah. Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum penting untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat persaudaraan, dan merefleksikan hikmah yang terkandung dalam kelahiran beliau.
Maulid Nabi memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Banyak ulama menegaskan bahwa memperingati kelahiran Nabi bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga upaya menghidupkan kembali nilai-nilai dakwah dan keteladanan beliau di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).
Ayat ini menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ merupakan anugerah terbesar bagi manusia, sekaligus rahmat yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Hikmah Maulid: Lebih dari Sekadar Tradisi
Dalam perspektif Islam, hikmah Maulid memiliki makna yang universal. Setidaknya terdapat beberapa poin utama yang menjadi pesan penting dari peringatan ini:
Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah berupa diutusnya Nabi sebagai penuntun umat manusia dari kegelapan menuju cahaya iman.
Meneguhkan keteladanan Rasulullah ﷺ sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ayat ini menjadi dasar bahwa setiap peringatan Maulid harus berujung pada peningkatan kualitas akhlak dan amal umat.
Membangun spiritualitas umat melalui shalawat, doa, dan dzikir yang menguatkan ikatan hati dengan Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 56).
Menguatkan ukhuwah Islamiyah karena Maulid biasanya dirayakan dalam suasana kebersamaan, silaturahmi, dan solidaritas sosial.
Pandangan Hikmah Maulid: Ragam Perspektif Umat
Meski hikmah Maulid bersifat universal, pandangan umat Islam terhadap peringatan ini sangat beragam.
Pandangan sufistik menempatkan Maulid sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui cinta mendalam kepada Rasulullah ﷺ.
Pandangan pendidikan melihat Maulid sebagai media dakwah dan pendidikan karakter, karena sirah Nabi sering disampaikan dalam bentuk hikmah moral.
Pandangan sosial-budaya menekankan peran Maulid dalam mempererat persaudaraan dan menghidupkan budaya gotong royong.
Pandangan kritis hadir dari kalangan yang mengingatkan agar perayaan Maulid tidak jatuh pada praktik berlebihan yang keluar dari koridor syariat.
Beragam pandangan ini menunjukkan bahwa Maulid bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi juga ruang refleksi yang terbuka untuk berbagai interpretasi sesuai konteks sosial dan keilmuan umat.
Relevansi Maulid di Era Modern
Di tengah tantangan modernitas, globalisasi, dan krisis moral, peringatan Maulid semakin relevan untuk memperkuat identitas umat Islam. Melalui Maulid, generasi muda dapat belajar tentang kepemimpinan, akhlak, dan nilai-nilai universal yang diwariskan Nabi Muhammad ﷺ.
Selain itu, Maulid juga berfungsi sebagai momentum persatuan umat. Di saat perbedaan kerap menimbulkan konflik, Maulid hadir sebagai ruang kebersamaan untuk merawat ukhuwah dan semangat kebangsaan.
Penutup
Hikmah Maulid Nabi Muhammad ﷺ menegaskan pentingnya meneladani akhlak beliau, memperkuat spiritualitas, dan membangun persatuan. Sementara itu, pandangan hikmah Maulid menunjukkan keragaman interpretasi yang memperkaya tradisi ini.
Perbedaan sudut pandang bukanlah alasan untuk melemahkan esensi Maulid, melainkan memperkuat pemahaman bahwa kelahiran Nabi ﷺ adalah rahmat terbesar bagi seluruh umat manusia. Dengan semangat Maulid, umat Islam diharapkan mampu menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar