Ruang Lingkup, Tujuan, dan Relevansi Pendidikan dan Keguruan
Pendidikan secara universal diakui sebagai fondasi peradaban, pembangunan, dan transformasi manusia. Kualitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia, dan guru merupakan agen utama dalam proses transformasi tersebut (Darling-Hammond, 2017). Dalam hal ini, pendidikan keguruan sebagai disiplin ilmu memiliki ruang lingkup yang luas, mencakup filsafat, psikologi, pedagogi, kurikulum, manajemen, hingga teknologi. Pada saat yang sama, pendidikan keguruan berfungsi sebagai bidang profesional yang membekali calon guru dengan kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan pendidikan kontemporer (Korthagen, 2017).
Relevansi pendidikan dan keguruan semakin meningkat pada era globalisasi dan digitalisasi. Dengan adanya perubahan cepat dalam teknologi, ekonomi, dan budaya, pendidikan keguruan dituntut menghasilkan tenaga pendidik yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam pengalaman belajar yang utuh (Schleicher, 2020). Oleh karena itu, memahami ruang lingkup, tujuan, dan relevansi pendidikan dan keguruan merupakan hal yang mendasar untuk memperbaiki kebijakan maupun praktik pendidikan di tingkat nasional maupun global.
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ruang lingkup pendidikan dan keguruan, menjelaskan tujuan utamanya, serta membahas relevansinya dalam pembangunan individu, sosial, dan global.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur kualitatif. Data primer diperoleh dari artikel jurnal bereputasi, buku akademik, dan laporan resmi yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2024. Sumber dipilih berdasarkan relevansi dengan tiga tema utama: (1) ruang lingkup pendidikan dan keguruan, (2) tujuan pendidikan keguruan, dan (3) relevansi pendidikan dalam konteks masyarakat kontemporer. Analisis tematik digunakan untuk menyintesiskan temuan dari berbagai perspektif (Snyder, 2019).
Hasil dan Pembahasan
1. Ruang Lingkup Pendidikan dan Keguruan
Ruang lingkup pendidikan dan keguruan melampaui kegiatan mengajar di kelas, melainkan mencakup dimensi filosofis, psikologis, manajerial, dan teknologi. Menurut Darling-Hammond (2017), pendidikan keguruan tidak sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk praktisi reflektif yang mampu mengintegrasikan teori dengan praktik. Beberapa ruang lingkup utama antara lain:
-
Filsafat dan Teori Pendidikan: Mengkaji hakikat peserta didik, nilai, serta tujuan pendidikan.
-
Psikologi Belajar: Memahami tahap perkembangan, proses belajar, serta motivasi peserta didik.
-
Kurikulum dan Pedagogi: Merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi strategi pembelajaran.
-
Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan: Menguatkan institusi pendidikan melalui kepemimpinan dan supervisi.
-
Pengembangan Profesi Guru: Memastikan guru memenuhi standar kompetensi pedagogik, sosial, dan etika.
-
Integrasi Teknologi: Memanfaatkan TIK dan media digital untuk meningkatkan hasil belajar.
Dengan cakupan multidimensional ini, pendidikan keguruan berfungsi sebagai sistem kompleks yang dirancang untuk menjawab kebutuhan peserta didik dalam lingkungan yang dinamis.
2. Tujuan Pendidikan dan Keguruan
Tujuan pendidikan dan keguruan sejalan dengan misi besar pembangunan manusia. Menurut UNESCO (2015), pendidikan guru harus mempersiapkan pendidik yang mampu mendorong pembelajaran sepanjang hayat, inklusi sosial, dan pemahaman budaya. Beberapa tujuan pokok antara lain:
-
Pengembangan Potensi Peserta Didik: Memberdayakan aspek intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
-
Pembentukan Karakter dan Nilai: Menanamkan etika, moral, dan nilai budaya dalam proses pendidikan.
-
Kompetensi Profesional: Membekali guru agar unggul dalam aspek pedagogi, keilmuan, dan teknologi (Korthagen, 2017).
-
Pemberdayaan Masyarakat: Melahirkan lulusan yang berkontribusi pada pembangunan sosial-ekonomi.
-
Inovasi dan Riset: Mendorong lahirnya inovasi dan praktik pengajaran berbasis penelitian.
Dengan demikian, pendidikan keguruan merupakan investasi strategis dalam membentuk pendidik yang kompeten sekaligus warga negara yang bertanggung jawab.
3. Relevansi Pendidikan dan Keguruan
Relevansi pendidikan dan keguruan semakin nyata dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Schleicher (2020) menegaskan bahwa profesi guru harus beradaptasi dengan perubahan global dalam teknologi, demografi, dan budaya. Relevansinya dapat ditinjau dalam beberapa aspek:
-
Relevansi Individual: Membantu peserta didik menemukan jati diri, mengembangkan kreativitas, dan membangun ketangguhan.
-
Relevansi Sosial: Mendorong kohesi sosial, toleransi, serta partisipasi dalam demokrasi (Biesta, 2015).
-
Relevansi Ekonomi: Membekali keterampilan kerja, inovasi, dan kewirausahaan.
-
Relevansi Teknologis: Menyiapkan peserta didik agar literat digital dan mampu beradaptasi sepanjang hayat.
-
Relevansi Global: Menumbuhkan kompetensi lintas budaya dan kesadaran keberlanjutan.
Dengan demikian, pendidikan keguruan tidak hanya relevan bagi dunia sekolah, tetapi juga krusial dalam proses transformasi masyarakat dan peradaban global.
Kesimpulan
Ruang lingkup pendidikan dan keguruan mencakup aspek filosofis, psikologis, pedagogis, dan teknologi, yang mencerminkan kompleksitas dalam mempersiapkan tenaga pendidik profesional. Tujuannya diarahkan pada pengembangan potensi manusia, pembentukan karakter, penguatan kompetensi guru, serta pengembangan inovasi pendidikan. Relevansinya tampak jelas pada berbagai dimensi—individual, sosial, ekonomi, teknologi, dan global—sehingga menjadikannya pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Oleh karena itu, pendidikan keguruan harus terus diperkuat melalui kebijakan, inovasi, dan praktik yang selaras dengan tuntutan zaman. Peningkatan kualitas pendidikan guru bukan hanya agenda akademik, melainkan kebutuhan strategis untuk pembangunan manusia dan masyarakat.
Daftar Pustaka
Biesta, G. (2015). Good education in an age of measurement: Ethics, politics, democracy. Routledge.
Darling-Hammond, L. (2017). Teacher education around the world: What can we learn from international practice? European Journal of Teacher Education, 40(3), 291–309. https://doi.org/10.1080/02619768.2017.1315399
Korthagen, F. A. J. (2017). Inconvenient truths about teacher learning: Towards professional development 3.0. Teachers and Teaching, 23(4), 387–405. https://doi.org/10.1080/13540602.2016.1211523
Schleicher, A. (2020). World class: How to build a 21st-century school system. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/20769679
Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333–339. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2019.07.039
UNESCO. (2015). Rethinking education: Towards a global common good? UNESCO Publishing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar